Larvul ngasal anasir puncak petahana budaya kei

Larvul Ngasal Anasir Puncak Petahanan Budaya Kei
Nama: Rosita Hardin
Nim :240308014
Judul cerpen 
Larvul ngasal anasir puncak pertahanan budaya kei

Secara tematik, paket pemikiran dalam buku ini diberi judul “Larvul Ngabal: Anasir Puncak Ketahanan Budaya Kei”. Lingkup pemikiran yang dicakupnya relevan dengan determinan kebijakan makro nasional yang populer dengan sebutan Ketahanan Nasional Republik Indonesia (TANNAS-RI). Karenanya, narasi yang tersaji merupakan upaya penggambaran salah satu anasir puncak Kebudayaan Kei di Maluku Tenggara, yakni Larvul Ngabal sebagai unsur pembangun Ketahanan Nasional dari salah satu bagian wilayah Republik Indonesia. Materi buku mengetengahkan deskripsi eksistensi masyarakat dimana komunitas Suku Kei berada, serta kajian tentang Larvul Ngabal sebagai aspek material dan aspek mental kognitif kebudayaan Kei.
      Lalu, apa urgensi yang dikandungnya? Pertama, sebagai anasır puncak kebudayaan Kei, Larvul Ngabal memegang peranan penting dalam pengendalian kesadaran budaya masyarakat Suku Kei, menuju keseimbangan dan keselarasan (equilibrium) kehidupan di tengah-tengah komunitasnya Kedua, Ketahanan budaya Kei, pada gilirannya merupakan kontribusi berharga bagi Ketahanan Nasional menuju penciptaan situası komprehensif integral (Bhinneka Tunggal Ika). Ketiga, sebagai aspek material kebudayaan Kei Larvul Ngabal merupakan kekayaan nasional yang dapat dikomodifikasi sehingga dapat dibuktikan kemanfaatannya terhadap aspek kehidupan yang lebih luas pada masa kini.
Para peneliti menyebut suku Kei sebagai orang Kei atau Orang Tenggara, tetapi mereka menandai dirinya sebagai Orang Evav. Suku Kei merupakan salah satu suku di Maluku Tenggara yang mendiami pulau-pulau antara Banda dan Inan Orang Kei hidup dan membangun komunitasnya menurut kelompok-kelompok kekerabatan dengan hak ulayatnya masing-masing, bail, di Kei Kecil, Kei besar, Namser, Tayando maupun pulau-pulau kecil lainnya. Penduduk Kei, pada umumnya, hidup sebagai petani ladang. Makanan pokok mereka
Adalah berbagai jenis umbi (en) terutama ketela pohon yang disebut enbal (en = ubi, bal Bali) selain sagu. Untuk memenuhi kebutuhan hariannya, dilakukan berburu dan mencari ikan. Akan tetapi, kini, banyak penduduk asli yang mempunyai mata pencarian yang beragam Penduduk pedesaan dipersatukan oleh suatu pusat desa/kampung yang bersifat sosial-religius disebut Woma, yaitu tempat (permohonan ampun massal). Selain itu, terdapat pula tempat bermusyawarah ang terletak di halaman rumah kepala kampung atau kepala fam (Boelaars, 1982:24-46).


Cerita ini sering kali di pahami sebagai bagian dari warisan budaya kei  yang terinspirasi oleh kearifan lokal, konflik masa lalu, dan peyatuan masyarakat larvul ngabal, Lahir sebagai hukum adat .